Kecelakaan Kerja di Proyek Konstruksi [2]


E-mail this post



Remember me (?)



All personal information that you provide here will be governed by the Privacy Policy of Blogger.com. More...



Yes, langsung aja, melanjutkan dari tulisan sebelumnya...

Jadi gini, dari penelitan yang gue lakukan. Beberapa item utama yang menjadi fokus penelitian adalah:

1. Jenis pekerjaan yang paling sering terjadi kecelakaan kerja
2. Jenis pekerjaan yang paling sering terjadi kecelakaan kerja yang berakibat cedera ringan

3. Jenis pekerjaan yang paling sering terjadi kecelakaan kerja yang berakibat cedera berat

4. Jenis pekerjaan yang paling sering terjadi kecelakaan kerja yang berakibat cacat

5. Jenis pekerjaan yang paling sering terjadi kecelakaan kerja yang berakibat kematian


Nah, kemudian item utama ini disokong oleh beberapa item pendukung yang diteliti dari beberapa orang responden, item pendukung tersebut adalah:

1. Status pekerjaan
2. Lamanya pengalaman kerja
3. Pernah - tidaknya mengalami kecelakaan kerja

4. Tingkat cedera yang sering terjadi pada kecelakaan kerja

5. Tahapan pekerjaan proyek yang rawan kecelakaan

6. Ketinggian bangunan yang paling beresiko terjadi kecelakaan

7. Faktor yang paling berpengaruh pada kecelakaan kerja

8. Tingkatan penerapan program kesehatan dan keselamatan kerja.


Hasil penelitian yang didapatkan berupa item utama dan item pendukung selanjutnya diolah untuk mengetahui jenis pekerjaan beresiko tinggi dan faktor pendukung terjadinya kecelakaan tersebut. Adapun urutan analisis data adalah :

1. Menyusun item utama dan item pendukung dalam tabel

Penyusunan jenis – jenis ini dalam tabel bertujuan untuk memberikan kemudahan dalam pengelompokan dan penilaian pada jenis yang sudah ditentukan sesuai tujuan penelitian. Untuk memudahkan pembuatan tabel, maka jawaban yang diberikan oleh responden akan diberikan kode dan kemudian disusun ke dalam tabel.

2. Pemberian skor

Pemberian skor bertujuan untuk memudahkan penilaian terhadap item – item yang diminati. Semakin tinggi minat responden terhadap jenis tersebut, maka skor yang diberikan juga tinggi.

3. Membuat perangkingan

Dari jawaban responden akan dibuat urutan pekerjaan yang beresiko kecelakaan tertinggi. Urutan ini akan didasarkan dari hasil atau output dari metode frequencies SPSS 11.5 dan untuk respon dari responden akan diuji dengan multiple response pada program SPSS 11.5. Dari dua metode ini juga akan diketahui jumlah data yang valid dari sebuah variabel.

4. Uji keselarasan Kendall

Uji keselarasan Kendall adalah salah satu metode pengujian akan keselarasan jawaban responden.

5. Korelasi Kendall

Dari data yang diperoleh akan diuji apakah terdapat variabel yang saling mendukung. Yang dianalisis disini adalah hubungan kecelakaan kerja dengan faktor ketinggian, kemudian faktor pengalaman dan kelengkapan alat.

Di sini gue nggak akan membahas sistem scoring yang gue lakukan, karena ribet banget jelasinnya. Heheh. Yang jelas, faktor-faktor seperti lama pengalaman kerja, posisi/jabatan pekerja di proyek, lokasi ketinggian item pekerjaan, semuanya masuk dalam rumusan scoring.
Untuk wacana responden bisa kalian lihat di gambar berikut:



Nah, dari hasil olahan data, item pekerjaan yang paling beresiko menimbulkan kecelakaan kerja adalah sebagai berikut:

1. Pekerjaan Bekisting ( 40 % )
2. Pekerjaan Atap ( 17.1 %)

3. Pekerjaan Kayu ( 14.3 %)

4. Pekerjaan Scaffolding ( 11.4 %)
5. Pekerjaan Penulangan ( 5.7 %)

6. Pekerjaan Dinding ( 5.7 %)

7. Pekerjaan Batu ( 2.9 %)

8. Pekerjaan Pengecoran ( 2.9 %)




Dari sekian banyak variabel data yang diolah, hasilnya nggak terlalu berbeda. Baik pada resiko terjadinya kematian, cedera berat, cedera sedang dan cedera ringan. Pekerjaan bekisting menempati urutan teratas.

Periode pelaksanaan pun ternyata juga berpengaruh pada angka kecelakaan kerja. 88.6% kecelakaan terjadi pada saat proyek pembangunan konstruksi gedung mencapai 50% sampai selesai. Yang mana masuk akal banget. Karena otomatis, lokasi ketinggian pekerjaan juga akan bertambah seiring dengan prosentase penyelesaian proyek.

Sedangkan faktor yang paling berpengaruh pada terjadinya kecelakaan kerja adalah sebagai berikut:

1. Kelalaian pekerja ( manusia ) ( 74.3 % )
2. Kelengkapan alat kerja (5.7 % )

3. Kelengkapan alat keselamatan kerja ( 2.9 % )


Nah, dari hasil pengolahan data lebih lanjut, diketahui bahwa jenis pekerjaan yang paling sering terjadi atau terdapat kecelakaan kerja adalah jenis pekerjaan bekisting ( 40 % ). Kecelakaan yang sering terjadi pada pekerjaan bekisting disini yang dimaksudkan oleh para responden lebih sering terjadi pada saat pembongkaran bekisting. Pekerjaan atap menempati urutan kedua ( 17.1 % ). Pada penelitian yang dilakukan oleh Diyarto dan Agus pada kontraktor kelas C, diketahui bahwa angka kecelakaan terbesar terjadi pada saat pekerjaan bekisting ( Agus dan Diyarto, 2002 ).


Tingkat cedera yang sering terjadi pada saat pembongkaran bekisting adalah cedera ringan (lihat gambar di atas), hal ini biasanya disebabkan oleh serpihan kayu dan paku pada struktur bekisting yang dibongkar menusuk tangan pekerja yang bersangkutan, terpukul palu juga salah satu penyebab cedera yang terjadi. Sedangkan cedera ringan yang terjadi pada pekerjaaan kayu disebabkan oleh tergoresnya tangan pekerja oleh serpihan kayu, terluka karena tergores gergaji dan tertusuk paku.


Sementara untuk tingkat cedera berat (lihat gambar di atas). Cedera yang sering diderita oleh pada bekerja adalah patah tulang, gegar otak. Pada pekerjaan bekisting ( 25.7 % ), cedera ini terjadi akibat terjatuh dari ketinggian atau tertimpa struktur bekisting. Biasanya terjadi pada pemasangan atau pembongkaran struktur bekisting lantai 2 ke atas, terjatuhnya pekerja sering terjadi akibat kurang kokohnya lantai kerja atau scaffolding tempat pekerja tersebut melakukan perkerjaaan struktur bekisting. Cedera berat juga sering terjadi pada pekerjaan atap. Pekerja tergelincir dari struktur atap dan terjatuh. Juga terdapat kasus benda yang terjatuh dari struktur yang dikerjakan di ketinggian, jatuh menimpa pekerja lain yang bekerja di bawah. Pekerja yang bekerja pada stuktur atap mempunyai resiko terjatuh yang tinggi karena para responden menyatakan bahwa kehadiran sabuk pengaman sering menyebabkan pekerja tidak nyaman dalam melaksanakan pekerjaannya, sehingga para pekerja yang bekerja di struktur atap jarang menggunakan sabuk pengaman.

Nah, pada penelitian gue, ternyata kecelakaan yang berujung pada kematian paling sering terjadi pada pekerjaan atap. Jatuh dari lantai 8 dengan alat pengaman lengkap aja udah hampir pasti Innalillahi. Apalagi nggak pake?

Moreover, hasil penelitian gue diamini oleh Ir. A. Koesmargono,. MCM, Phd., dari Universitas Atma Jaya Jogjakarta (moga-moga beliau nggak keberatan namanya gue cantumin di sini). Beliau berpendapat bahwa ada kesesuaian pada hasil jenis kecelakaan yang diteliti dengan data kecelakaan secara global. Pada proyek konstruksi bangunan gedung, kecelakaan sering terjadi pada :

1. Pekerjaan struktur yang berada di ketinggian
2. Pekerjaan penggalian

Kesesuaian yang dimaksud disini, bahwa kecelakaan pada pekerjaan bekisting yang didapatkan dari jawaban responden, adalah pekerjaan bekisting pada ketinggian struktur di atas dua lantai. Btw, gue jadi inget kalo gue belum kirim hasil penelitian gue ke beliau.. Maaf ya Pak :D

So.. that’s about it. Untuk tulisan K3 selanjutnya gue akan membahas tentang solusi K3 berdasarkan TQM. Di mana Untuk lebih meminimalisasi angka kecelakaan yang terjadi maka perlu diadakan sebuah sistem kontrol pada manajemen dan kualitas proyek secara menyeluruh ( Total Quality Management ; TQM ). Mulai dari pemilik proyek sampai pada manajemen dan pelaksana proyek, melaksanakan kebijakan kesehatan dan keselamatan kerja secara menyeluruh.

Until then, sabar ya bos! :D

Recommended reading:

- Gana Juniarto dan Ristiantoro Indro, 2001, PENGENDALIAN KERUGIAN BIAYA PROYEK AKIBAT KECELAKAAN KERJA PADA PROYEK PEMBANGUNAN KAMPUS TERPADU UNIT VII UII YOGYAKARTA. Tugas Akhir Teknik Sipil UII Yogyakarta
- Koesmargono, 2004, CONSTRUCTION SAFETY MANAGEMENT.

- R.W King dan R. Hudson, 1981, CONSTRUCTION HAZARD AND SAFETY HAND BOOK. Butterworths, London.
- International Labour Organization Geneva, 1989, PENCEGAHAN KECELAKAAN. PT PUSTAKA BINAMAN PRESSINDO.
- Bennet N.B. Silalahi dan Ratumondang B Silalahi, 1991, KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA. PT. PUSTAKA BINAMAN PRESSINDO.
- Herbert Spirer dan Louise Spirer, 1997, ANALISIS DATA UNTUK MEMANTAU HAM. Penerbit ITB Bandung.
- Singgih Santoso, 2000, SPSS 9, MENGOLAH DATA STATISTIK. PT. ELEX MEDIA KOMPUTINDO
- Sutrisno Hadi, METODOLOGI RESEARCH, 2000. PENERBIT ANDI YOGYAKARTA
- Singgih Santoso, 2002, SPSS 10, MENGOLAH DATA STATISTIK SECARA PROFESIONAL. PT. ELEX MEDIA KOMPUTINDO

Labels: ,


4 Responses to “Kecelakaan Kerja di Proyek Konstruksi [2]”

  1. Anonymous Anonymous 

    This comment has been removed by a blog administrator.

  2. Anonymous jonizan 

    tulisan TQM-nya aku tunggu mas :)

  3. Anonymous Anonymous 

    gw suka artikel yang penuh fakta dan data ini. sedikit sharing, gw punya temen2 yang capable untuk memberikan pelatihan kepada orang2 yang bekerja di ketinggian. mereka memang hanya lulusan SMU, tapi jam terbang dan pengalaman mereka tentang hal ini cukup tinggi. Hmm, dan sekarang gw sedang berfikir, gimana caranya untuk 'menawarkan' jasa mereka ke perusahaan2 yang biasanya pelit banget untuk mengeluarkan budget di bidang ini.. Yah,, itu sedikit sharing aja dari gw, siapa tahu lu punya beberapa masukan.

    salam kenal,
    maria - bandung.

  4. Blogger penyihir 

    maria, imho. kalo mau bisnis, think business.

    semisal gue anggap lo udah punya perusahaan sendiri, maka buatlah semacam company profile. isinya tentu jasa pelatihan yang akan kalian tawarkan.

    data kecelakaan, bisa juga lo cantumin di company profile. data valid tentunya (bisa lo dapat di jamsostek), yang isinya gimana kecelakaan bisa berefek negatif pada kondisi finansial dan jalannya proyek. dan gimana pelatihan lo bisa mencegah terjadinya kecelakaan. atau paling nggak, meminimalisir dampak kecelakaan. poin yang ditawarkan tentu saja, prevent accident, before it happen : )

    mungkin bisa lo jalin kerjasama dengan universitas yang ada jurusan k3. macam universitas indonesia misalnya, untuk bikin pelatihan bareng, buat ditawarkan ke perusahaan konstruksi.

Leave a Reply

      Convert to boldConvert to italicConvert to link

 


Si Tukang Sihir

  • Si penyihir
  • Masih berkeliaran di sekitar Jakarta, DKI, Indonesia
  • naek kopaja sambil ngapalin mantra cepet kaya tanpa kerja... di waktu senggang, duduk di depan komputer, sambil ayun tongkat ke kanan, ayun tongkat ke kiri... wuzz.. keyboard-nya ngetik sendiri...
  • My profile

Mantra Lampau

Kumpulan Mantra

Jaring Laba-laba



Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 2.5 License


Powered by Blogger and Blogger Templates